Keluarga Umat Katolik Indonesia di UK
Home Berita Foto-foto Mailing List Daftar Alamat Kontak KKI

Sekelumit Hidupku

Hanya karena kemurahan Tuhan aku boleh hidup di beberapa negara.

Pertama kami tinggal di negeri kecil nan canggih, ditahun 1987 kios koran kecil dekat apartemen sudah berTV dan tukang daging bawa hp yang besarnya masih segede batako. Dari tingkat 21 tempat tinggalku, aku bisa menengok pasar dan toko di bawahku, melihat tembok tetangga dan menatap langit. Sambil menunggu anakku pulang dari playschool aku berjalan-jalan. Banyak sekali macam barang yang dijual, mulai dari makanan dan sandang serta keperluan rumahtangga lain. Hatiku tersentak tiap melihat ada baju atau barang made in Indonesia. Pasti kuraba dan kalau sesuai keperluanku, dengan yakin aku beli sambil membayangkan para pekerja pabrik yang membuatnya.

Ketika pindah ke negri yang lebih besar, kembali aku mencari produk negeriku. Terkadang aku sedih melihat begitu hebatnya barang dari negara tetangga yang merajai toko-toko, padahal di negriku lebih banyak, mengapa tidak sampai kesana? Aku mencari dan membeli panci dan pakaian sedapat mungkin made in Indonesia. Nasib membawa kami lagi ke sebuah negri yang lebih keciil dan terpencil, bahkan di map tidak tertera, sebuah tempat di daerah Laut Caribia. Ada 1 toko yang menjual produk Indonesia, bahkan sampai ke sepeda roda 3, sayangnya anakku sudah besar.

Saat inipun kami tinggal di negri orang dan tetap dengan setia aku mencari produk negriku. Aku sering lama di depan freezer mencari udang frozen produksi Indonesia. Sedih kalau tidak ketemu.

Apakah itu semua karena nasionalisme yang begitu besar? entahlah, mungkin begitu, tapi apakah kemudian aku memakai kain kebaya, atau memasang bendera merah putih di rumahku atau lambang negaraku? Atau aku sibuk bergaul dengan bangsaku saja? Tidak, aku ikut dalam banyak kegiatan, aku pernah jadi volunteer di sekolah Katolik dimana anak-anakku sekolah. Ikut juga koor yang terdiri dari orang Inggris dan Yamaika. Bahkan aku punya teman dekat seorang pembantu yang berbangsa Filipina yang tertekan karena bosnya galak. Wajahku yang sangat asia membuat orang Filipina menyapa dengan bahasanya, aku jawab dengan senyum, I'm your neighbour, Indonesian. Aku senang dianggap bagian mereka.

Ketika pulang aku memang membeli barang buatan asing sebagai kenangan. Sampai di Indonesia aku belanja di pasar Tebet. Waktu aku membuat dapur umum, aku kumpulkan ibu2 yang mau bantu dan aku belanja sendiri untuk korban banjir. Ketika ada yang bilang, dikoordinir supaya lebih resmi dan diketahui dari mana, aku bilang: orang udah lapar suruh nunggu rapat dulu, siapa mau ikut nyumbang silakan. Bahkan ketika aku mendapat sumbangan dari teman yang masih di luar, aku sumbangkan ke Posko Partai Keadilan, lho koq bukan organisasi Katolik? Hatiku waktu itu tergerak kesana karena waktu itu mereka betul-betul terjun langsung ke banjirnya dan sebagai organisasi, yang mereka punyai saat itu semangat yang besar itu saja.

Suatu saat dengan baju muslim pinjaman aku ikut paduan suara dan nyanyi lagu2 kasidah, sampai ada yang bertanya, ibu bukannya kristen? Aku tanya, memang nggak boleh? mereka bilang bukan nggak boleh, tapi ibu koq mau? Lho ini kan memuji Allah kan, mau aja dong. Kalau ada yang bertanya, ibu agamanya apa, aku tidak secara jumawa menjawab, bukan takut mengaku tapi karena aku pikir dulu apakah pada saat itu ada sesuatu yang kulakukan yang memalukan agamaku.

Memang menjadi bagian dari kelompok, apakah itu bangsa, agama, keluarga atau apapun juga membawa resiko yang besar. Kita harus hati-hati dalam melangkah, apakah tindakan kita bisa merugikan atau memalukan. Kalau toh membanggakan, biarlah orang lain yang menyatakannya pada kita dan akhirnya mereka menyukai kita dengan latar belakang yang ada pada kita juga. Nggak usah kita sibuk menjadi Front Pembela sesuatu padahal sesuatu itu tidak perlu dibela.

Kalau kita merasa Allah itu kasih, maka tugas kita untuk memberikan kasih lebih besar daripada yang tidak diajar tentang kasih.

2 Juni 2005, Mbak Aiek.